Thursday, January 4, 2018

Pengertian "Perempuan Gerabah" Simbolis Wanita Sering Dipentaskan Dalam Seni

Mitos Atau Fakta "Perempuan Gerabah" Simbolis Wanita Sering Dipentaskan Dalam Seni
Pernahkah kita merenung, bahwa di dalam tubuh kita ada unsur tanah? Allah SWT menciptakan Adam dari segenggam tanah. Atau pernahkah kita berpikir, bahwa dari rahim seorang perempuanlah kita berasal? Tampaknya itulah yang ingin disampaikan Nandang Aradea, sutradara “Perempuan Gerabah”, yang dipentaskan di Taman Kafe Kebun Oregano, Serang, 25 – 27 Agustus lalu.

Pementasan yang kali ini didukung Tabloid Kaibon dan Yayasan Kelola terbilang sukses. Tiap malamnya ditonton seratusan lebih pelajar, mahasiswa, guru, umum, serta yang istimewa para pejabat Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, memberikan secercah harapan tentang teater modern di Banten yang mulai bisa diterima.

Setelah Toto ST Radik, Dadi RsN, Nandang Aradea bagi saya adalah inovator teater modern di Banten. Dengan segala keterbatasan, Nadang mampu berkarya. Selain minimnya sokongan moril dan materil dari instansi terkait serta pihak swasta di Banten serta darah di tubuhnya yang 2 minggu sekali harus dicuci , tidak menjadi halangan bagi Nadang untuk berkarya.

Saya ingat peristiwa setahun lalu di ”Keranda Merah Putih Rumah Dunia” para seniman di Banten menuntut pembangunan gedung kesenian. Tapi Nandang tidak peduli ketika hingga detik ini para penguasa di Banten belum membangun gedung kesenian. ”Bagi saya, pementasan bisa di mana saja! Di aula sekolah dan kampus, di lapanan bola, di gudang, bahkan di halaman sebuah kantor! Sensasinya ada di sana!”

Sebagai icon terbaru dunia teater di Banten, Nandang berkolaborasi dengan pemilik Taman Kafe Kebun Oregano di Jalan Bhayangkara, Serang. Di sebuah sudutnya, di bawah rindangnya pohon, Nandang membangun “gedung teater”nya sendiri. Memanfaatkan sahabat-sahabat alamnya berupa bamboo untuk tribun penonton dan kayu untuk panggung yang melingkar, maka jadilah sebuah pementasan unik “Perempuan Gerabah”. Atapnya adalah langit. Nandan menyerahkan semuanya kepada kemurahan hati semesta.

Pengertian "Perempuan Gerabah" Simbolis Wanita Sering Dipentaskan Dalam Seni
Maka tanah bagi Nandang sebuah keharusan. Nandang tidak ingin melupakan dari mana asal mula dirinya. Juga diri kita. Dari tanah, lalu Adam, kemudian rahim seorang ibu. Tanah adalah bumi. Bumi adalah perempuan. Perempuan adalah Bumi. Bumi adalah ibu. Ibu adalah kasih sayang. Nandang memotretnya dengan kritis di “Perempuan Gerabah”, bahwa “tanah atau perempuan kadang membawa manfaat, sekaligus petaka”.

Di “Bicaralah Tanah” Nandang dengan lantang menyuarakan kepedihan para petani, yang tertindas karena hasil panennya lebih banyak dinikmati orang kota. Kala itu Nandang membawa dua truk tanah lempung basah dari Pontang, Tirtayasa, Serang. Kali ini pun tidak beda, lempung-lempung alias tanah liat dari Bumi Jaya, Pontang, diangkut. Bahkan kerajinan tangan berupa gerabahnya pula. Ini untuk mengingatkan kita, bahwa tanah Bumi Jaya itu diangkuti pengusha ke Bali.

Lagi-lagi Nandang melakukan pendekatan biomechanic milik Vsevolod Emilevich Mayerhold (1874 – 1940) yang mementingkan simbolisasi dalam berteater. Kalau dalam “Bicaralah Tanah” itu ada pada gerak tubuh para aktornya dengan bantuan peralatan seperti golok, arit, dan cangkul, di “Perempuan Gerabah” kelima aktornya (Taufik P. Pamungkas, Ded Setiawan, Suryadi Sulli Al Faqir, Arif Fr, dan seorang perempuan bernama Desi Indrayani) mengembangkan beberapa bahasa tubuh, emosi, karakter secara spesifik dengan bantuan gerabah dan tanah liat dari kampung Bumi Jaya yang ternyata kini diangkuti para pengusaha ke Bali.

Tapi ada yang membedakan, jika di “Bicaralah Tanah” pra aktornya msih menggunakan bantuan media kata-kata, di “Perempuan Gerabah’, tidak sepotong kata pun meluncur dari kelima aktornya.

Video Youtube Perempuan Gerabah Atawa Ritus Kawin Tanah

Khas Nandang yang lain, selalu meneror penonton. Dimulai dengan destrukturisasi panggung berupa lingkaran “bumi” berdiameter 3 meter, dimana kelima aktor berjumpalitan karena diatasnya bertebaran tanah lampung yang basah. Penonton melingkar dan berjarak sangat dekat, sehingga terjalin hubungan erat antara para aktor di panggung dengan penontonnya,. Jika di “Bicaralah Tanah” penonton diteror dengan cangkul, golok, dan muncratan lumpur sawah, pada “Perempuan Gerabah” penonton mesti melindungi tubuhnya dari serpihan pecahan gerabah yang tajam serta cipratan tanah lempung.

Beberapa penonton menjerit, karena wajahnya terkena serpihan gerabah yang mencelat. Sedangkan para aktornya lecet berdarah. “Pertunjukkan teater Nandang memang selalu beresiko,” saya ingat omongan Arif Senjaya, dosen Fakultas Sastra Untirta Serang, yang rajin mengamati perkembangan teater modern di Banten lewat tulisan-tulisannya.

Saya yang menonton “Perempuan Gerabah” bersama istri di malam pertama, merasakan teror yang sama. Pakaian kami kotor terkena cipratan tanah liat. Beberapa kali serpihan keramik mencelat dan hampir mengenai wajah. Tapi, kami tidak berniat beranjak dari tempat duduk, karena “Perempuan Gerabah” menghipnotis kami.

Ada sebuah realitas mengerikan di bumi ini dengan metaphor yang bertindihan disodorkan Nandang. Berawal dari tanah, jadi gerabah, tapi kemudian dihancurkan lagi. Ini adalah kebiasaan buruk kita: membangun sesuatu untuk kemudian dihancurkan. Realitas yang disuguhkan Nandang di panggungs yang melingkar, membuka peluang bagi para penonton dengan tafsirnya sendiri. Dari beberapa mulut penonton saya mencuri dengar, mulai dari keluhan terhadap hutan gundul, politik kotor, korupsi, skandal para pejabat, global warming, bencana alam, yang kesemuanya disebabkan oleh tangan-tangan manusia. Murka Allah SWT sedang dipertontonkan di pentas “Perempuan Gerabah”.
Pengertian "Perempuan Gerabah" Simbolis Wanita Sering Dipentaskan Dalam Seni
Saya tahu, Nandang sedang mengajak para penonton untuk berpikir lewat gerak tubuh kelima aktornya. Semua dipersilahkan menafsirkannya. Saya terkagum-kagum dengan aktor perempuan (mahasiwi IAIN Serang) yang dikerubuti 4 aktor lelaki (dari Untirta Serang). Si “perempuan gerabah” menjadi “pusat segala masalah”. Jika dalam wilayah kebudayaan popular, The Changcuters dengan jenaka meneriakan “wanita racun dunia,” maka Nandang mengingatkan, perempuan bisa memunculkan masalah lewat persoalan siX, misalnya. Tahta, harta, dan wanita adalah adagium popular bagi para lelaki. Di Al-Qur’an sudah disebutkan, bahwa yang paling banyak akan masuk neraka salah satunya adalah perempuan.

Seperti biasa, di ujung pementasan, “bintang tamu” muncul. Dia perempuan pengrajin gerabah dari Bumi Jaya bernama Maryamah. Saya melihat bagaimana penderitana para pengrajin gerabah lewat Mak Maryamah. Dan seusai pementasan saya terpekur, bahwa sebetulnya saya sering melukai “tanah”; merobek-robek tubuh sendiri dengan prilaku yang tidak terpuji. Tapi di sisi lain, ada hal yang membuat saya bahagia. Kini teater bisa dijadikan media komunikasi untuk mengkritik situasi dan kondisi sosial - politik terkini di setiap kota provinsi indonesia.

itulah postingan Pengertian "Perempuan Gerabah" Simbolis Wanita Sering Dipentaskan Dalam Seni, cerita diatas apakah mitos atau fakta? cerita kisah Perempuan Gerabah admin kutip dari Maestro Gola Gong, lihat juga artikel logo trendi 2018, gambar tato 3d terbaik dan gambar wallpaper pop art super model cantik dunia