Video: Philharmonia Orchestra Penampilan Musisi Kelas Dunia

Advertisement

Baca juga:

Video: Philharmonia Orchestra Penampilan Musisi Kelas Dunia
Disalah satu sudut kota Jakarta, di bilangan kuningan, jauh dari hiruk-pikuk kota, dan hentakan musik clubbing dan salsa yang sedang gandrung mengoyang klub dansa ibukota. Teralun gesekan lirih sekelompok pemain biola, diiringi tarikan cello dan dentuman senar bass, membawakan Serenade for String Orchestra in C mayor opus 48 dari Peter Tchaikovsky.

Tiga bulan sudah 25 orang itu berlatih dua kali dalam seminggu. Apalagi saat-saat sekarang ini, ketika sebuah panggung dengan puluhan kursi penonton, menunggu kehadiran mereka untuk melantunkan nada-nada klasik karya komponis-komponis dunia.

Seorang pria, berdiri tegap, mengalukan tangan hampir seperti menari tetapi dengan ketegasan. Dalam setiap gerakan tangan yang dibuatnya, 25 alat musik gesek melantun bersama dalam sebuah harmoni, lembut kadang penuh bertenaga. Membawa suasana hati dalam suatu emosi tersendiri.

Kelompok ini adalah Jakarta Philharmonia Orchestra, yang sedang mempersiapkan konser keduanya, rabu mendatang tanggal 18 April 2001, di Gedung Kesenian Jakarta. Kelompok yang memulai debutnya di dunia musik klasik Indonesia pada bulan Januari 2001 ini, berusaha membuktikan konsistensinya sebagai sebuah kelompok yang mengedepankan perkembangan musik klasik di Indonesia.

Mengambil strategi pendekatan publik yang tidak lazim dilakukan, Jakarta Philharmonia Orchestra tidak mengelar pertunjukkan di ruang hotel berbintang, tetapi di Gedung Kesenian Jakarta, ruang publik kesenian yang bisa diakses siapapun tanpa undangan khusus. Harga tiketnya pun menjadi relatif lebih terjangkau Rp. 30.000,- untuk umum, sementara mahasiswa mendapat potongan khusus.

Kami ingin pertunjukkan seperti ini lebih banyak ditonton orang dari berbagai kalangan, bukan hanya yang mampu saja, kata Umar Soediarso, manager Orkestra yang didirikan Mei 2000, melalui proses audisi untuk menghimpun personil yang handal.

Masalah kemahalan harga tiket pertunjukkan musik klasik yang banyak digelar di hotel-hotel berbintang, memang menjadi kendala tersendiri untuk menyentuh apresiasi masyarakat yang lebih luas. Nilai tiket yang mencapai ratusan ribu rupiah, mengakibatkan konsumsi pertunjukkan ini hanya dapat sekelompok orang yang mampu saja. Nilai prestise dan gengsi pun bercampur di dalamnya, menjadikan pertunjukkan ini seolah menjadi musik golongan  papan atas saja.

Padahal musik adalah ujud seni yang dapat menyentuh siapa saja. Musik klasik adalah musik yang universal, musik ini dapat melatih kepekaan seseorang  tegas Umar Soediarso, sambil menjelaskan upaya kelompok ini untuk berlatih intensif dan tampil secara periodik agar terus dekat dengan publik penonton yang telah dibangunnya.

Dengan rata-rata pemain yang masih muda dan sebagian besar adalah jebolan pendidikan musik, kelompok ini siap menyapa publik penontonnya, dalam formasi String Chamber Orkestra, membawakan Serenade for String Orchestra in C mayor opus 48, dari Peter Tchaikovsky, Adagietto untuk String Orchestra dan Harpa (dari Sympony nomor 5), dari Gustav Mahler, Serenada for String Orchestra dalam nada dasar E minor opus 20, dari Sir Edward Elgar, dan Hoe-Down (dari Rodeo) , oleh Aaron Copland.

Dibawah arahan konduktor berbakat I Gusti Bagus Wismakarma, peraih Diploma Violine dari Hochschule fuer Musik und Theater Hamburg Jerman 1988-1997 - dibawah bimbingan Prof Winfried Ruessman yang telah terlibat dalam berbagai pertunjukkan di tingkat nasional hingga Internasional. Jakarta Philharmonia Orchestra, kiranya akan membawa pengalaman tersendiri di dalam ruang batin Anda, pencinta musik klasik, ataupun Anda yang hendak berkenalan dengan jenis musik ini.